Sabtu, 12 Juni 2010

Teori Sediaan Parenteral-Infus

1. Pengertian infus
Pustaka : FI III : 12, SDF : 163, Ensiklopedia : 201, RPS 18th : 1570, Scoville’s : 193, DOM martin : 973, PDF parenteral : 514
Kesimpulan :
Suatu sediaan steril berupa larutan atau emulsi bebas pirogen sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah yang disuntikkan langsung kedalam vena dalam volume relatif banyak yang dikemas dalam wadah kapasitas 100-1000 ml yang digunakan untuk memperbaiki gangguan elektrolit cairan tubuh yang serius yang menyediakan nutrisi dasar dan digunakan sebagai pembawa untuk bahan-bahan obat
2. Syarat-syarat parenteral volume besar
Pustaka: FI III : 12, RPS 18th : 1570, Ensiklopedia vol. II : 201, SDF : 163
Kesimpulan :
1. Steril
2. Bebas Pirogen
3. Bebas dari bahan pertikulat jernih, karena dapat menyebabkan emboli.
4. Dikemas dalam wadah dosis tunggal
5. Tidak mengadung bahan baktersid karena volume cairan terlalu besar.
6. Isotonis dan isohidris

3. Definisi Pirogen
Pustaka: Ensiklopedia Vol.II: 203, Ansel: 339, Scoville’s: 195, RPS18 th : 1590, SDF : 44
Kesimpulan:
Pirogen (bakteri endotoksin) adalah produk metabolit dari pertumbuhan mikroorganisme yang larut air, bahan panas, yang menimbulkan demam ketika diinjeksikan secara i.v pirogen tidak dapat dihancurkan melalui sterilisasi uap dan filtrasi.
4. Macam-macam pirogen (Pirogen : 14)
Pirogen dibagi kedalam dua kelas. Pirogen eksogen yaitu terdapat di luar tubuh dan menginduksi kenaikan suhu ketika diinjeksikan pada manusia dan hewan. Kelompok umum dari pirogen eksogen yaitu yaitu mikroba, mikrofungi dan virus, juga pirogen non mikrobial seperti beberapa obat,steroid, fraksi plasma dan bahan tambahan suntik muramil dipeptida. Pirogen endogen dihasilkan secara internal adalah sel inang pada respon stimulus dari berbagai pirogen eksogen. Inilah mediator utama dari demam dan didiskusikan pada bagian ini.
5. Sumber-sumber pirogen
Pustaka: Scoville’s : 196, RPS 18th : 1550, SDF : 46
Kesimpulan :
1. Air desyilat yang telah terkontaminasi oleh bakteri yang tahan udara, yang tumbuh dan menghasilkan endotoksin.
2. Zat terlarut seperti NaCl dan dekstrosa jga dapat mengadung pirogen
3. Peralatan yang digunkan sering menjadi media kultur bakteri dengan kontaminasi pirogenik.
4. Kontaminasi dapat berasal daeri mikroorganisme di udara atau dari debu.
6. Cara mencegah pirogen
Pustaka: Scoville’s : 196-197, Scoville’s : 194
Kesimpulan :
- Cara yang dapat diambil untuk mencegah pemasukan dan peningkatan pirogen dalam cairan parenteral adalah dengan tepat merancancang dan pengopersaian penyulingan.
- Air destilasi harus terlindung selama pengumpulan dan harus digunakan segera mungkin setelah destilasi untuk mencegah perkembangbiakan bakteri yang mungkin ada,
7. Cara menghilangkan pirogen
Pustaka: PTM : 139, SDF : 46-47, RPS 18th : 1850, Pirogen :203-213
- Inaktifasi endotoksin
a. Hidrolisis asam basa
b. Oksidasi
c. Alkilasi
d. Pemanasan kering pada suhu tinggi (250 selama 30-45 menit atau 170-180oC, selama 3-4 jam)
e. Pemanasan basah
f. Radiasi ionisasi
g. Polymixin B dan limulus amebasit lysat
- Penghilangan endotoksin
a. Membilas dengan API steril
b. Destilasi
c. Ultrafiltrasi
d. Osmosa balik
e. Karbon aktif
f. Daya tarik elektrostatik
g. Daya tarik hidrofobik
8. Uji pirogen (FI IV 908-909)
Uji pirogen dimaksudkan untuk membatasi resiko reaksi demam pada tingkat yang dapat diterima oleh pasien pada pemberian sediaan injeksi. Pengujian meliputi pengukuran kenaikan suhu kelinci setelah penyuntikan larutan uji secara i.v dan ditujukan untuk sediaan yang perlu penyiapan pendahuluan atau cara pemberiannya perlu kondisi khusus ikuti petunjuk tambahan yang tertera pada masing-masing monografi.
Alat dan pengencer. Alat suntik, jarum dan alat kaca dibebas pirogenkan dengan pemanasan pada suhu 250o C selama tidak kurang dari 30 menit atau dengan cara lain sesuai dengan perlakuan semua pengencer dan larutan untuk pencuci dan pembilas alat suntik dengan cara sedemikian rupa yang dapat menjamin alat tersebut steril dan bebas pirogen. Lakukan uji pirogen terhadap pengencer dan larutan pencuci dan pembilas secara berkala. Apabila digunakan injeksi NaCl sebagai pengencer, gunakan injeksi yang mengandung larutan NaCl PO 9 %.
Rekaman suhu. Gunakan alat pengukur suhu yang teliti seperti termometer klinik atau termistor atau alat sejenis yang telah dikalibrasi untuk menjamin ketelitian skala kurang lebih 0,1 yang telah diuji bahwa pembacaan suhu maximum tercapai <5 menit masukkan alat pengukur suhu kedalam anus kelinci dengan kedalam tidak < 7,5 cm dan sesudah jangka waktu tudak kurang dari yang telah ditetapkan sebelumnya, tekan suhu tubuh kelinci.
Hewan uji. Gunakan kelinci dewasa yang sehat. Tempatkan kelinci satu ekor dalam satu kandang dalam ruang dengan suhu yang seragam antara 20-23o dan bebas dari gangguan yang menimbulkan kegelisahan. Beda suhu tidak boleh berbeda kurang lebih 3o dari suhu yang telah ditetapkan. Untuk kelinci yang belum pernah digunakan untuk uji pirogen, adaptasikan kelinci tidak boleh lebih dari tujuh hari dengan uji pendahuluan yang meliputi semua tahap pengujian yang tertera pada prosedur, kecuali penyuntikan, kelinci tidak boleh digunakan untuk uji pirogen lebih dari sekali dalam waktu 48 jam atau sebelum 2 minggu setelah digunakan untuk uji pirogen bila menunjukkan kenaikan suhu maksimal 0,6o atau lebih.
Prosedur. Lakukan pengujian dalam ruang terpisah yang khusus untuk uji pirogen dan denagn kondisi lingkungan yang sama dengan ruang pemeliharaan, bebas dari keributan yang menyebabkankegelisahan. Kelinci tidak diberi makan selama waktu pengujian. Minum dibolehkan pada tiap saat, tetapi dibatasi pada saat pengujian. Apabila pengujian menggunakan termistor, masukkan kelinci kedalam kotak penyekap sedemikian rupa sehingga kelinci tertahan dengan letak leher yang longgar sehingga dapat duduk dengan bebas. Tidak lebih dari 30 menit sebelum penyuntikan larutan uji, tentukan “suhu awal” masing-masing kelinci yang merupakan dasar untuk menentukan kenaikan suhu. Beda suhu tiap kelinci dalam satu kelompok tidak boleh lebih 1o dan suhu awal setiap kelinci tidak boleh lebih dari 39,8o
Kecuali dinyatakan lain pada masing-masing monografi, suntikkan 10 ml/kg bb, melalui vena tepi telinga 3 ekor kelinci dan penyuntikan dilakukan waktu 10 menit. Larutan uji berupa sediaan yang bila perlu yang dikonstitusi seperti yang tertera pada masing-masing monografi dan disuntikkan dengan dosis seperti yang tertera. Untuk uji pirogen alat atau perangkat injeksi, gunakan sebagai larutan uji hasil cucian atau bilsan dari permukaan alat yang berhubungan langsung dengan sediaan parenteral, tempat penyuntikan atau jaringan tubuh pasien. Semua larutan harus bebas dari kontaminasi. Hangatkan larutan pada suhu 37o + 2o sebelum penyuntikan. Rekam suhu berturut-turut antara jam ke-1 dan jam ke-3setelah penyuntikan dengan selang waktu.
Penafsiran hasil. Setiap penurunan suhu dengan nol. Sediaan memenuhi syarat apabila tak seekor kelinci pun menunjukkan kenaikan suhu 0,5o atau lebih. Jika ada kelinci yang menunjukkan kenaikan suhu 0,5o atau lebih. Lanjutkan pengujian dengan menggunakan lima ekor kelinci. Jika tidak lebih dari tiga ekor dari 8 ekor kelinci masing-masing menunjukkan kenaikan suhu 0,5o atau lebih dan jumlah kenaikan suhu maksimal 8 ekor kelinci tidak lebih dari 3,3o sediaan dinyatakan memenuhi syarat bebas pirogen.
9. Cara pemberian infus
Pustaka: RPS 18th : 1574, SDF : 194 – 196
a. Terapi berkelanjutan
Infus i.v metode umum dari pemberian obat adalah untuk menambahkan obat secara langsung pada wadah injeksi. Obat menjadi encer dalam cairan infus dan diteteskan secara perlahan kedalam vena.
b. Terapi berselang
Dalam terapi berselang obat diberikan pada internal waktu. Tiga kemungkinan pemberian terapi intermitten disarankan: (1) menggunakan botol mini dengan alat pemberian yang telah tergantung, (2) injeksi dari larutan secara perlahan dengan jarum dan spoit secara langsung kedalam vena adalah tempat injeksi dari suatu alat pemberian volume besar yang telah tergantung, atau (3) penambahan obat untuk suatu volume pnedeterminan dari cairan pada suatu alat volume kontrol.
c. Metode piggyback
Metode piggyback menunjukkan tetesan berselang i.v dari larutan kedua, campuran obat melalui tempat penusukan vena dari sistem intravena yang telah dibuat sebelumnya. Dengan cara ini obat akan masuk pada vena mulai dari bagian atas cairan intravena yang pertama. Teknik piggyback tidak hanya mengurangi keperluan untuk penusukan vena yang lain, tapi juga menghasilkan pengenceran obat dan konsentrasi puncak dari darah dalam waktu yang relatif singkat biasanya 30-60 menit. Pengenceran obat membantu mengurangi iritasi serum yang tinggi sebelumnya merupakan pertimbangan penting dalam infeksi serius yang memerlukan terapi obat yang tepat. Keuntungan ini telah mempopulerkan metode piggyback dari terapi i.v terutama untuk penggunan berselang antibiotik.

10. Pewadahan
Pustaka: RPS 18th : 1572, Lachman ; 711 – 712
Wadah untuk cairan harus dirancang untuk mempertahankan sterilitas larutan, kejernihan (bebas dari bahan partikulat) dan tidak mengandung pirogen dari waktu penyiapan, penyimpanan dan selama pemberian klinik. Penutup wadah harus dirancang untuk memudahkan pemasukan (inversi) dari alat pemberian dimana injeksi diberikannya, pada kecepatan aliran yang diatur, kedalam vena yang cocok. Cairan i.v dalam wadah gelas dan plastik, yang dibuat dari bahan plastikyang fleksibel atau semikaku, cairan i.v tersedia dalam ukuran 100 ml, 500 ml dan 250 ml. Dalam penambahan 250 ml untuk kapasitas wadah yang dikemas dalam 50 ml atau 100 ml D5/W dari injeksi NaCl untuk penggunaan piggyback. Cairan i.v dalam wadah gelas dikemas tanpa udara, dimana harus dikeluarkan untuk digunakan untuk cairan yang meninggalkan wadah gelas i.v dan mengalir lewat alat pemberian, beberapa mekanisme diperlukan untuk membiarkan udara yang masuk kedalam wadah. Sistem plastik tidak perlu fleksibel dari pemasukan udara. Tekanan atmosfir akan menekan wadah dalam cairan untuk mengalir. Semua wadah gelas dan plastik dosis tunggal seharusnya dibuang setelah dibuka jika tidak digunakan. Cairan i.v dikemas dengan kira-kira 3% kelebihan isi untuk menghilangkan udara dan alat pemberian dan memperbolehkan volume dilabeli untuk dikeluarkan pada wadah. Wadah diakhiri dengan kelebihan 20 ml pada skala yang memungkinkan volume dalam wadah untuk ditentukan dari atas atau posisi yang diinversi. Wadah gelas mempunyai pembuka atau tali plastik untuk pemberian i.v sementara wadah plastik mempunyai pembuka eyelet atau tali plastik.

11. Rute pemberian
Larutan nutrisi hipertonis dengan konsentrasi tinggi digunakan dalam hiperalimentasi parenteral. Untuk meminimalkan iritasi, solusi ini diberikan perlahan dengan kateter dalam pembuluh darah besar seperti sebuah subklavain.
Pada kesempatan langka , infus diberikan ke dalam jaringan subkutan. Jenis administrasi disebut "hypodermolyssis" dan digunakan pada bayi atau obesitas pasien yang pembuluh yang tidak terakses dan telah digunakan di masa lalu untuk mengurangi kecepatan shock.
12. Penggunaan Sistem terbuka dan tertutup
Hingga saat ini, sistem administrasi infus diklasifikasikan sebagai sistem terbuka (nonvacum) atau sistem tertutup (vakum).
Sistem terbuka, menggunakan botol penutup sekrup yang dikemas pada tekanan atmosfir. Sebuah bukti logam petutup segel dengan merobek tab telah disingkirkan , tutup sekrup telah disingkirkan, dan pengatur pemberian disematkan ke dalam wadah. Karena masalah pencemaran dengan sistem terbuka, jenis kemasan ini telah disingkirkan dari sistem tertutup.
Saat ini tersedia infuse yang dikemas dalam gelas yang system tertutup dengan ruang hampa. meskipun ada variasi dalam jenis kontainer yang digunakan, semua sistem telah karakteristik umum. Semua dikemas dalam sistem dalam botol kaca membutuhkan masuknya udara untuk operasi. Sekarang udara vakum dalam wadah setelah autoclaving harus dibebaskan sebelum fluida dapat mengalir.
13. Laju infuse
Laju aliran cairan intravena ditentukan oleh resep dokter yang penilaiannya didasarkan pada berbagai faktor seperti luas permukaan tubuh pasien dan usia, dan susunan cairan.Tingkat administrasi dan total volume sering dibatasi oleh kemampuan pasien untuk mengasimilasi cairan. Pasien dengan gagal jantung kongestif atau kesulitan paru dapat bereaksi negatif untuk cairan infus. Hati-hati ketika menjalani . Ekstrem adalah bila pemberian cairan kepada pasien dengan tingkat kerusakan ginjal.
Dokter mungkin ingin infus cepat atau lambat tergantung pada tujuannya. Utamanya mungkin dalam pemberian obat dan tidak harus dengan cairan. Laju aliran biasa atau normal larutan isotonic viskositas rendah (5% D / W, Normal saline, Ringer Laktat) adalah sebesar 125 ml per jam atau 1 liter setiap 8 jam. Jumlah ini sampai 2 ml per menit.
Larutan yang sangat hipertonic seperti larutan hiperalimentasi diberikan tidak melebihi 1 liter setiap 8 jam atau 3 liter setiap 24 jam. Hanya dalam kasus luar biasa darah (kehilangan, shock atau administrasi anasthesia) akan berada di angka lebih dari 1 liter setiap 1 ½ jam. ini adalah sampai 11 ml per menit. Sering pesanan ditulis sebagai "KVO" (tetap vena terbuka), dan dalam hal ini laju administrasi akan lambat. Tujuannya adalah untuk menjaga cairan intravena berjalan dalam mengantisipasi terapi masa depan. Gravitasi makan laju aliran infus di bawah 10 ml per jam mengurangi tekanan ke titik di mana darah akan regurate melalui jarum dan tabung, dan bekuan mungkin terbentuk. Wadah dengan infuse set terletak ±I meter di atas pasien (3 feets). Aliran belum dimulai hingga teramati udara dari aliran infuse set masuk ke dalam wadah/botol dan infuse set terpenuhi cairan infuse.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan aliran infus, yaitu kondisi pasien, bobot badan, usia dan komposisi sediaan.
Cara perhitungan aliran infuse,yaitu:
volume
Laju alir = ----------
waktu
• Misal : Infus set memberikan tetesan 10 tetes per ml dan volume infus 1000 ml, diinfuskan selama 8 jam (480 menit), maka :
1000
untuk per menit = -------- = 2,08 ml/menit
480
= 2,08 x 10 tetes/ml
= 20,8 ~ 21 tetes/menit
• Jika 50 ml/jam diinfuskan, berarti
50
= ------ = 0,83 ml/menit
60
= 0,83 ml/menit x 10 tetes/ml
= 8,3 ~ 8 tetes/menit
2. Mencari tingkat tetes
Untuk menghitung tingkat di tetes per menit (dpm) kita perlu tahu volume yang akan disampaikan dalam mililiter, waktu dalam menit dan tingkat dari himpunan memberi. Pemberian set biasanya menyampaikan pada 20 tetes per mL (macrodrip) atau 60 tetes per mL (microdrip). Beberapa set dapat menyampaikan pada 15 tetes per mL.
Volume tetes (mL)
Laju drips = -------------------------
Waktu (jam)
18. Faktor-Faktor yang Diperhatikan dalam Pemberian Terapi Cairan Intravena
DARI SISI PASIEN
Dari sisi pasien yang perlu diperhatikan adalah penyakit dasar pasien, status hidrasi dan hemodinamik, pasien dengan komplikasi penyakit tertentu, dan kekuatan jantung. Kesemua faktor ini merupakan hal yang harus diketahui dokter.
DARI SISI CAIRAN
1. Kandungan elektrolit cairan
Elektrolit yang umum dikandung dalam larutan infus adalah Na+, K+, Cl-, Ca++, laktat atau asetat. Jadi, dalam pemberian infus, yang diperhitungkan bukan hanya air melainkan juga kandungan elektrolit ini apakah kurang, cukup, pas atau terlalu banyak.
Pengetahuan dokter dan paramedis tentang isi dan komposisi larutan infus sangatlah penting agar bisa memilih produk sesuai dengan indikasi masing-masing.
2. Osmolaritas cairan
Yang dimaksud dengan osmolaritas adalah jumlah total mmol elektrolit dalam kandungan infus. Untuk pemberian infus ke dalam vena tepi maksimal osmolaritas yang dianjurkan adalah kurang dari 900 mOsmol/L untuk mencegah risiko flebitis (peradangan vena)
Jika osmolaritas cairan melebihi 900 mOsmol/L maka infus harus diberikan melalui vena sentral.
3. Kandungan lain cairan
Seperti disebutkan sebelumnya, selain elektrolit beberapa produk infus juga mengandung zat-zat gizi yang mudah diserap ke dalam sel, antara lain: glukosa, maltosa, fruktosa, silitol, sorbitol, asam amino, trigliserida.
Pasien yang dirawat lebih lama juga membutuhkan unsur-unsur lain seperti Mg++, Zn++ dan trace element lainnya.
4. Sterilitas cairan infus.
Parameter kualitas untuk sediaan cairan infus yang harus dipenuhi adalah steril, bebas partikel dan bebas pirogen disamping pemenuhan persyaratan yang lain. Pada sterilisasi cairan intravena yang menggunakan metoda sterilisasi uap panas, ada dua pendekatan yang banyak digunakan, yaitu overkill dan non-overkill (bioburden-based).
a. Overkill: Pendekatan Overkill dilakukan untuk membunuh semua mikroba, dengan prosedur sterilisasi akhir pada suhu tinggi yaitu 121oC selama 15 menit. Metoda ini sudah dikenal lebih dari satu abad yang lalu. Dengan cara ini, hanya cairan infus yang mengandung elektrolit tidak akan mengalami perubahan. Namun cara ini sangat berisiko dilakukan pada cairan infus yang mengandung nutrisi seperti karbohidrat dan asam amino karena bisa jadi nutrisi tersebut pecah dan pecahannya menjadi racun. Misalnya saja larutan glukosa konsentrasi tinggi. Pada pemanasan tinggi, cairan ini akan menghasilkan produk dekomposisi yang dinamakan 5-HMF atau 5-Hidroksimetil furfural yang pada kadar tertentu berpotensi menimbulkan gangguan hati. Selain suhu sterilisasi yang terlalu tinggi, lama penyimpanan juga berbanding lurus dengan peningkatan kadar 5-HMF ini.
b. Non-overkill (bioburden-based) :sesuai dengan perkembangan kedokteran yang membutuhkan jenis cairan yang lebih beragam contohnya cairan infus yang mengandung nutrisi seperti karbohidrat dan asam amino serta obat-obatan yang berasal dari bioteknologi, maka berkembang juga teknologi sterilisasi yang lebih mutakhir yaitu metoda Non-Overkill atau disebut juga Bioburden, dimana pemanasan akhir yang digunakan tidak lagi harus mencapai 121 derajat, sehingga produk-produk yang dihasilkan dengan metoda ini selain dijamin steril, bebas pirogen, bebas partikel namun kandungannya tetap stabil serta tidak terurai yang diakibatkan pemanasan yang terlampau tinggi. Dengan demikian infus tetap bermanfaat dan aman untuk diberikan.
Cairan infus yang dihasilkan melalui proses dan teknologi sebagai berikut:
A. Bahan baku (Material)
1. Penyediaan air demineralisata (deionized water), dengan system Reverse Osmosis yang memenuhi syarat, dan penyediaan air untuk injeksi (water for injection) melalui unit distilasi bertahap (multi stage distillation unit) pada suhu 121-140 oC yg bebas pirogen.
2. Bahan baku dengan beban mikroba dan endotoksin (pirogen) tidak melebihi batas yang dipersyaratkan;
B. Proses (Metode).
1. Proses produksi dengan semua komponen produk dan peralatan yang berhubungan langsung dengan bahan dilakukan secara otomatis.
2. Design dan kebersihan ruang produksi memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan dipantau secara berkala
3. Pembersihan dan sanitasi peralatan serta fasilitas produksi yang tervalidasi dan terkendali.
4. Penggunaan filter khusus untuk menjamin larutan bebas pirogen dan filter berukuran 0.22 mikron untuk menghilangkan kontaminasi mikroba dan partikel pada tahap pengolahan larutan infus sebelum proses pengisian kedalam botol. (Catatan, pirogen tidak akan hilang hanya dengan pemanasan 121 oC, dengan demikian pemanasan dengan suhu 121oC tidak memjamin bebas pirogen jika tidak difiltrasi)
5. Pembuatan botol, dengan sistem blow moulding pada suhu 1850C dan pengisian larutan di bawah Laminar Air Flow.
6. Proses sterilisasi akhir dari kemasan dan isi di otoklaf pada suhu yang optimal sehingga tidak merusak zat-zat yang rentan seperti dekstrosa, asam amino, albumin dll
7. Pengendalian kualitas (quality control) yang ketat melalui pengujian secara kimia, fisika, mikrobiologi untuk memastikan kualitas larutan dan kemasan produk sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan

C. SDM ( Sumber Daya Manusia)
Pelatihan SDM penerapan higiene perorangan untuk pengelolaan produk steril dan pemantauan kesehatan dilakukan secara berkala.

19. Kombinasi Parenteral dengan Obat/Sediaan Obat
Pemberian infuse jarang diberikan sendiri tetapi biasa sebagai pembawa, tetapi biasa dikombinasikan dengan sediaan parenteral yang mengandung obat. Penambahan obat lain ke dalam cairan infuse perlu diperhatikan masalah kestabilan dan tak tercampurkannya. Selain incompabilitasnya, juga masalah presipitan yang dapat mengiritasi vena.
Incompabilitas Intravena
• Incompabilitas Farmakologik, jika 2 atau 3 jenis obat diberikan bersamaan sehingga menyebabkan antagonis atau memberikan efek sinergis. Antagonis, misalnya kloramfenikol dan penisilin, penisilin dan kortison. Atau sinergis, seperti ion kalsium dan digoxin.
• Incompabilitas Fisis, terjadi perubahan penampakan larutan larutan seperti perubahan warna, kekeruhan atau endapan, terbentuk gas, dll. Misalnya garam kalsium mengendapkan Natrium Bikarbonat, garam asam seperti Dramamin-HCl akan mengendap dalam pH alkali.
• Incompabilitas kimiawi, yaitu terjadi degradasi, hidrolisis, oksidasi-reduksi, atau reaksi kompleks, seperti perubahan suasana asam-basa larutan/sediaan.
12. Penyuntikan langsung lewat infus set (Pemberian Bolus)
Metode pemberian infuse dengan penyuntikan langsung melalui vena, dengan penyuntikkan cepat langsung ke vena atau melalui infus set sesingkat mungkin. Obat diencerkan oleh pembawa (tujuan pengenceran sama dengan piggyback)
Obat yang direkomendasikan sbb :
INJEKSI KONSENTRASI KECEPATAN /WAKTU
Valium 5 mg/ml Tidak kurang 3 mg/menit
Keflin 100 mg/ml Tidak kurang 200 mg/menit
Ancef 100 mg/ml Tidak kurang 200 mg/menit
Aminofilin 500 mg/ml perlahan-lahan
Dilantin 50 mg/ml Tidak kurang 1 menit
Diazoxide 15 mg/ml Dalam 20 – 30 detik

20. Kontraindikasi dan Peringatan pada Pemasangan Infus Melalui Jalur Pembuluh Darah Vena
• Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus.
• Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).
• Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).
14. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus:
• Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah.
• Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah.
• Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar.
• Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.
15. Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus:
• Rasa perih/sakit
• Reaksi alergi

PUSTAKA
1. Boylan, James C., 1988, “Encyclopedia of pharmaceutical Technology, volume 11, Marcel Dekker, New York. 201-203, 206, 224-225
2. Gennaro,A.R, et all, (1990), “Remingtons Pharmaceutical Science”, 18th Edition, Marck Publishing Company, Pensylvania. 1570, 1590, 1550, 1850, 806, 1574, 1572, 820, 819, 817, 1464, 1321, 819
3. Gilbert, S., 1987, “Modern Pharmaceutical”, Marcel Dekker, New York. 445, 484
4. Howard, Ansel, (1989), “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi”, UI Press, Jakarta. 402, 448, 339, 419, 402, 439, 486
5. Jenkins, Glen, dkk, (1957), “Scoville’s The Art of Compounding”, MC Growhill, Book Company, New York. 193, 185, 191, 195, 196-198, 199, 197, 205
6. King, R., 1984, “Dispending of Medication”, Marck publishing company, Philadelphia. 165, 167, 192, 193, 198-201
7. Lacmann, Leon, 1994, “Teori dan Praktek Farmasi Industri”, UI Press, Jakarta. 641, 1296, 1294
8. Lucas, stefanus, 2006, “Formulasi Steril”, Penerbit Andi, Yogyakarta. 62-65, 81, 83-84
9. Martin, W, Inc, (1971), “Dispending of Medication”, Marck Publishing Company, USA. 973, 995
10. Michael, J.G., 1989, “Parenteral Technology Manual”, Interpharm Press, USA. 151, 153, 139, 154-155
11. Parrot, Eugene C, (1980), “Pharmaceutical Technology”, Collage of Pharmacy University of Iowa, Iowa City. 284, 290
12. Torce, Salvatore dan Robert S King, (1974), “Sterile Dosage Form”, Lea Febinger, Philadelphia. 37, 163, 166, 644, 45, 251, 253, 1252, 19,194-196
13. Rahman, Latifah. 2010. “Bahan Kuliah Teknologi Sediaan Steril. Makassar:Fakultas Farmasi UH.
14. http://www.csu.edu.au/division/studserv/maths/pdfs/medicationcalculationspart2.pdf diunduh 08 Juni 2010, 10:06 AM
15. formulasisteril.blogspot.com/2008/05/formula-infus, 8Juni 2010
16. www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news_print.asp
17. http://www.majalah-farmacia.com
18. http://nursingforuniverse.blogspot.com/2010/04/formula-infus

Minggu, 29 November 2009

Analisis Sulfadiazin

Antibiotik berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari Anti (lawan) dan Bios (hidup). Antibiotik adalah Suatu zat kimia yang dihasilkan oleh bakteri ataupun jamur yang berkhasiat obat apabila digunakan dalam dosis tertentu dan berkhasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman dan toksisitasnya tidak berbahaya bagi manusisa.

Salah satu golongan antibiotik yang digunakan secara umum adalah golongan sulfonamida yang pertama digunakan secara sistemik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi pada manusia.

Golongan sulfonamida seperti sulfadiazin kemudian terdesak oleh antibiotik yang baru. Akan tetapi pertengan tahun 1970 penemuan kegunaan sediaan kombinasi trimetoprin dan sulfametaksazol meningkatkan penggunaan sulfonamida untuk pengobatan penyakit infeksi tertentu.

Faktor Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Penggunaan Antibiotika

Harus mempertimbangkan faktor-faktor :

a. Gambaran klinis adanya infeksi yang diderita

b. Faktor sensitivitas bakteri terhadap antibiotik

c. Fungsi ginjal dan hati pasien

d. Biaya pengobatan

Antibiotika Kombinasi diberikan apabila pasien :

a. Pengobatan infeksi campuran

b .Pengobatan pada infeksi berat yang belum jelas penyebabnya

c. Efek sinergis

d. Memperlambat resistensi

Mekanisme Kerja Antibiotika yang bekerja pada sel tubuh manusia terdiri dari Menekan sintesis protein (Misal : kloramfenikol, tetrasiklin, aminoglikosida, makrolida, linkomisin). Bekerja pada dinding sel (Misal : Penisilin, sefalosporin, sikloserin, basitrasin & vankomisin).Bekerja pada membran sel (Misal : Polimiksin)

Berdasarkan kemampuannya membunuh mikroba Antibiotik dibagi menjadi dua yaitu ; Bersifat bakterisid (Misal : penisilin, sefalosporin, aminoglikosida, polipeptida). Bersifat bakteriostatik (Misal : tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, golonagn sulfonamida) Aktivitas dari antibiotika dinyatakan dalam mg. Kecuali zat yang belum dapat diperoleh 100% murni dan terdiri dari beberapa campuran zat (misal Nistatin,polimiksin B, basitrasi IU (International Unit)).

Penggolongan Antibiotika

1. Penisilin

2. Sefalosporin

3. Aminoglikosida

4. Tetrasiklin

5. Golongan Sulfanilamida

6. Kuinolon

7. Makrolida

8. Linkomisin

9. Polipeptida

10. Kloramfenikol

11. Antibiotik lainnya

Adapun struktur kimia dari sulfadiazine seperti berikut :







Dari struktur diatas secara kuantitatif dapat digunakan beberapa metode berdasarkan gugus fungsinya. Pertama dapat dilakukan metode diazotasi karena adanya gugus amin primer bebas, metode titrasi asam basa karena dari struktur diatas sulfadiazine merupakan basa lemah dengan adanya gugus - SO2, Metode bromometri karena adanya inti benzene dan metode argentometri karena dapat membentuk garam perak yang sukar larut.

Akan tetapi sebelum dilakukan uji kuantitatif dilakukan uji kualitatif (identifikasi)

ANALISIS KUALITATIF SULFONAMIDA

A. Reaksi Umum sulfonamida

1. Reaksi korek api

Zat ditambahkan HCl encer, kemudian ke dalamnya dicelupkan batang korek api, timbul warna jingga intensif-kuning jingga.

2. Reaksi diazo

Zat (±10mg) dalam 2 tetes HCl 2 A lalu ditambah dengan 1 ml air. Pada larutan ini ditambahkan 2 tetes diazo B (larutan 0,9% NaNO2) dan teteskan larutan 0.1 g β-naftol dalam 2 ml NaOH terbentuk warna jingga lalu merah darah.

3. Reaksi erlich (ρ-DAB HCl)

Sedikit zat padat pada pelat tetes lalu ditambahkan 1-2 tetes pereaksi DAB HCl terbentuk warna kuning-jingga.

B. Reaksi spesifik Sulfadiazin

1. Reaksi vanillin

Di atas kaca objek 1 tetes H2SO4 p ditambahkan beberapa serbuk vanillin, setelah dicampur ditambah dengan zat, dipanaskan di atas nyala api kecil, warna dilihat di atas dasar putih. sulfadiazin tidak akan memberikan reaksi dengan vanilin

2. Reaksi dengan CUSO4

Zat dalam tabung reaksi ditambahkan 2 ml air, dipanaskan sampai mendidih lalu ditambah NaOH 2 tetes. Setelah dingin ditambah larutan CuSO4 1 tetes kemudian teteskan HCl encer sampai reaksi netrasl atau asam lemah dan jika positif sulfadiazine membentuk warna ungu

3. Reasi indofenol

Sebanyak 50-100 mg zat dilarutkan dalam 2 ml air, dipanaskan sampai mendidih lalu ditambah 2 tetes NaOH dan 2 ml larutan NaOCl atau kaporit kemudian ditambahkan 1 tetes fenol. Dan jika positif mengandung sulfadiazin membentuk warna merah tua

4. Reaksi Roux

Zat diletakkan di atas plat tetes kemudian ditambahkan 1 tetes pereaksi Roux, aduk dengan batang pengaduk. Dan jika positif mengandung

Sulfadiazin membentuk warna ungu - hijau biru

5. Reaksi denagn KBrO3

Di atas plat tetes, lebih kurang 10 mg zat ditambahkan 1 ml H2SO4 encer kemudian ditambah 1 tetes pereaksi KBrO3 jenuh. Dan jika positif mengandung sulfadiazine membentuk warna kuning jingga - coklat merah

6. Reaksi Kristal dengan aseton

Serbuk sampel ditetesi aseton di atas objek gelas akan membentuk Kristal yang bentuknya berbeda-beda.

7. Reaksi Parri

Serbuk sulfadiazin dilarutkan dalam alkohol, ditetesi pereaksi Parri dan ammonia akan membentuk warna ungu untuk sulfadiazin.

8. Analisa kualitatif dengan TLC

Alat dan bahan :

Sampel murni senyawa obat, plat silica gel F254 ukuran 20 X 20 yang telah dicuci denag air dan diaktivasi pada suhu 110°C selama 1 jam, garam-garam logam, pelarut dan pereaksi lainnya denagn grade analisis.

standar ;

10 mg senyawa murni dilarutkan dalam 1 ml pelarut (10% larutan ammonia pekat dalam aseton)

Sistem pelarut

Campuran etil asetat (90 ml), methanol (10 ml), digunakan untuk menjenuhkan chamber kromatografi (21 cm X 21 cm X 10 cm) dan untuk mengelusi plat. pelarut ini dibuat segar untuk tiap kali penggunaan.

Pereaksi :

Berikut adalah pereaksi yang dibuat segar untuk digunakan (I) larutan jenuh kupri asetat dalam methanol, (II) larutan jenuh cupri asetat dalam aseton, (III) larutan cupri sulfat 5 % dalam air, (IV) larutan kobalt nitrat 2% dalam air, (V) larutan serium sulfat 2% dalam air dengan 5 ml asam sulfat pekat, dan (IV) larutan nikel klorida 2% dalam air.

Metode :

1 µL contoh sulfadiazin ditotolkan pada plat TLC dan dikeringkan, kemudian dielusi dengan fase gerak. Penampakan dengan pereaksi larutan cupri sulfat dalam air jika plat disemprot dengan larutan NaOH 0,1N dan dikeringkan setelah diberi perlakuan dengan pereaksi.

2. ANALISA KUANTITATIF SULFONAMIDA

1. Metode Diazotasi

Diazotasi adalah reaksi antara amin aromatis primer dengan asam nitrit yang berasal dari natrium nitrit dalam suasana asam untuk membentuk garam diazonium. Metode ini hampir digunakan terhadap sulfadiazin dan senyawa lain yang mempunyai gugus amin aromatis primer bebas atau yang pada hidrolisis atau reduksi mampu menghasilkan amin aromatis primer bebas atau yang pada hidrolisis atau reduksi mampu menghasilkan amin aromatis primer.

Prosedur kerja :

Untuk analisa kuantitatif, sampel dilarutkan dalam asam mineral berlebih kemudian dititrasi dengan larutan baku natrium nitrit. Titik akhir titrasi dapat ditunjukkan dengan :

- indikator dalam, terdiri dari campuran 5 tetes larutan tropeolin 00 0,1% dalam air dan 3 tetes larutan metilen biru 0,1% dalam air

- indikator luar yaitu pasta kanji-iodida

Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

NaNO2 + HCl HNO2 + NaCl








R NH2 + HNO2 R N Ξ N Cl + 2H2O

2. Metode Titrasi Bebas Air (TBA)

Metode titrasi bebas air digunakan pada sulfadiazin berdasarkan pada sifat asam dari gugus - SO2 - NH - sehingga dapat dititrasi sebagai basa. Pelarut yang dapat digunakan adalah alcohol, aseton, dimetil formamida dan butyl amin sedangkan sebagai titran digunakan larutan basa dalam air atau larutan Na metoksida. Prosedur kerja lebih kurang 250 mg contoh sulfadiazin yang ditimbang seksama dilarutkan dalam aseton netral, tambahkan 10 tetes campuran (0,025 bagian biru timol dan 0,075) bagian merah fenol yang dilarutkan dalam 50 bagian alkohol dan 50 bagian air). Titrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna menjadi biru.

3. Metode Bromometri

Metode bromometri dapat digunakan untuk penetapan kadar sulfadiazin dimana brom akan mensubstitusi sulfadiazine pada inti benzen. reaksi umum yang terjadi adalah sebagai berikut :

Br

H2N SO2 NH R + 2Br2 H2N SO2 NH R

Br

* Titrasi langsung

Ditimbang seksama 250 mg sulfadiazin, dilarutkan dalam HCl 3% lalu tambahkan 5 g kalium bromide dan asam klorida pakat. Setelah itu dititrasi dengan larutan baku kalium bromat 0,1 N menggunakan indikator metal merah. Titik akhir titrasi ditandai dengan hilangnya warna merah.

* Titrasi tidak langsung

Ditimbang seksama 250 mg sulfadiazin, dilarutkan dalam HCl 3% lalu tambahkan 5 g kalium bromide dan asam klorida pekat. Setelah itu ditambahkan 50 ml larutan baku kalium bromat 0.1 N hingga timbul warna kuning. Tambahkan segera 1 g kalium iodide lalu dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat 0,1 N dengan indikator kanji.

4. Metode Argentometri

Titrasi argentometri adalah fitrasi dengan menggunakan perak nitrat sebagai titran dimana akan terbentuk garam perak yang sukar larut. Sulfadiazin membentuk garam perak yang tidak larut dalam suasana basa.

Prosedur kerja :

Ditimbang seksama 250 mg sulfadiazin, dilarutkan dalam sedikit natrium hidroksida 0,1 N (sampai warna biru lemah dengan indikator timoftalein) dan encerkan dengan 50 ml air. Hilangkan warna biru tersebut dengan beberapa tetes asam sulfat 0,1 N. tambahkan 25 ml larutan perak nitrat baku 0,1 N. Setelah didiamkan di tempat gelap, endapan disaring. Asamkan filtrate dengan asam nitrat dan kelebihan perak nitrat dititrasi dengan larutan baku ammonium tiosianat 0,1 N dengan indikator besi (III) ammonium sulfat.

Khasiat dari sulfadiazin

Secara universal golongan sulfonamide seperti sulfadiazine dikenal sebagai antibiotik. Sulfadiazin menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur termasuk spesies yang telah resisten terhadap sulfonamide khususnya Ag-sulfadiazin. Ag-sulfadiazin juga digunakan untuk mengurang jumlah koloni mikroba dan mencegah infeksi luka bakar akan tetapi tidak dianjurkan untuk pengobatan luka yang besar dan dalam.

Mekanisme kerja umum dari sulfadiazine sebagai antibakteri adalah protozoa dengan menbentuk kompleks Zn(II) - sulfadiazin dimana sulfadiazin terkoordinasi secara bidentat terhadap atom pusat Zn2+ melalui atom NH sekunder dan N tersier.

Mekanisme kerja dari obat Ag-sulfadiazin yaitu Ag dilepaskan secara perlahan - lahan sampai mencapai kadar toksik yang selektif terhadap mikroba. Ag hanya sedikit diserap tetapi sulfadiazine dapat mencapai kadar terapi bila permukaan yang diolesi cukup luas. Umumnya sulfadaiazin tersedia dalam bentuk krem

Sulfadiazin juga berkhasiat terhadap disentri basiler, bahkan lebih efektif dibandingkan dengan kloramfenikol dan tetrasiklin. Sulfadiazin merupakan obat pilihan kedua untuk infeks saluran kemih. daya larutnya dalam kemih agak buruk (sering menyebabkan kristaluria) sehingga perlu diberikan Natrium bikarbonat 3 kali sehari 3 - 4 g dan minum air lebih kurang 1,5 liter sehari.

Efek samping

Walaupun jarang terjadi, efek sampingnya dapat berupa rasa terbakar, gatal dan erupsi kulit. Adapun gangguan lainnya yaitu nausea, gangguan lambung, menurunkan nafsu makan dan menimbulkan rasa pusing.

Penggunaan

Sulfadiazin digunakan untuk membunuh mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi dengan jalan menghentikan proses produksi asam folat pada sel mikroorganisme. Akan tetapi pada umumnya digunakan untuk penyakit infeksi pada saluran urin.

Sulfadiazin merupakan ligan yang sering digunakan untuk obat antibakteri. Sulfadiazin merupakan turunan dari sulfonamid yang penggunaannya secara luas untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram-positif dan Gram-negatif tertentu, beberapa jamur

.

Kesimpulan

Sulfadiazin merupakan turunan dari sulfonamida yang penggunaannya secara luas untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram-positif dan Gram-negatif tertentu, beberapa jamur.

Dari struktur sulfadiazin secara kuantitatif dapat digunakan beberapa metode berdasarkan gugus fungsinya,

1. Metode diazotasi Dapat dilakukan karena adanya gugus amin primer bebas,

2. Metode titrasi asam basa karena dari struktur diatas sulfadiazin merupakan basa lemah dengan adanya gugus - SO2,

3. Metode bromometri karena adanya inti benzene dan

4. Metode argentometri karena dapat membentuk garam perak yang sukar larut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2000. Obat - Obat Penting. Jakarta : PT Elex Media Kompotindo

2. Ganiswarna, Sulistia. 2007. Farmakoloi dan Terapi, edisi V. Jakarta : FK UI

3. Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia adisi IV .Jakarta :Departemen Kesehatan Republik Indonesia

4. Vogel .1985. Vogel’ Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif makro dan semimikro edisi V. Diterjamahkan oleh Setiono dan Pudaatmaka. PT Kalman Media Pustaka, Jakarta

5. Day, R. A dan Underwood, A.L. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif, edisi V, diterjamahkan oleh Aloysius Hadyana Pudjatmaka, Erlangga : Jakarta

6. http / www. google.com/ sulfadiazine

7. http / www. google.com/ efek sulfadiazine