Kamis, 23 September 2010

Tabir Surya

Tabir surya adalah sediaan yang digunakan pada kulit untuk melindungi kulit dari efek yang berbahaya dari sinar ultra violet. Dengan cara memantulkan, menyerap atau menghamburkan sebagian atau semua sinar UV tersebut. (2).

Dari kandungan zatnya, tabir surya kerap dibedakan menjadi sun block dan sun screen. Sun block yang secara fisik memantulkan sinar UV umumnya mengandung seng oksida dan titanium dioksida, dan harus dioleskan lebih tebal.

Sementara sun screen atau sun filter secara kimiawi menyerap sinar UV, agar tak menyerang sel kulit hidup; biasanya mengandung avobenzone dan benzophenone yang bisa menangkis serangan UVA, dan cukup dioleskan tipis saja. (2)

Syarat-syarat bagi preparat kosmetik tabir surya : (2:83)

1. Enak dan mudah dipakai

2. Jumlah yang menempel mencukupi kebutuhan

3. Bahan aktif dan bahan dasar mudah tercampur

4. Bahan dasar harus mempertahankan kelembutan dan kelembaban kulit

Syarat-syarat bagi bahan aktif untuk preparat tabir surya : (2:83)

1. Efektif menyerap radiasi UVB tanpa perubahan kimiawi, karena jika tidak demikian akan mengurangi efisiensi, bahkan menjadi toksik atau menimbulkan iritasi

2. Meneruskan UVA untuk mendapatkan tanning (di kulit Kaukasia/Eropa)

3. Stabil, yaitu tahan keringat dan tidak menguap

4. Mempunyai daya larut yang cukup untuk mempermudah formulasinya

5. Tidak berbau atau boleh berbau ringan

6. Tidak toksik, tidak mengiritasi dan tidak menyebabkan sensitisasi

II.7 Sunblock

Energi UV dapat dihalangi untuk mencapai permukaan kulit dengan menggunakan penghalang reflektif antara kulit dan sumber energi. Banyak

Tabel 1. Persentase radiasi uv yang dipantulkan oleh pigmen mineral

Pada 2967 Å

Pada 3650 Å

Pressed ZnO

Porcelain enamel

TiO2

Pressed MgO

Asap MgO

Pressed CaCO3

Plastik gypsum putih

2,5

5,4

6,0

86,0

98,0

83,0

65,0

4,0

63,0

31,0

87,0

94,0

86,0

76,0

pigmen umumnya bekerja sebagai pemantul dan penyerap sinar UV. Luckiesh melaporkan data pada table 1 untuk beberapa pigment mineral. Wilcox dan Stoller juga mengukur refleksi sinar UV dari beberapa pigmen putih yang kering; beberapa diantaranya diberikan pada table 2. (4;264)

Tabel 2. Faktor pemantulan UV untuk pigmen kering

ZnO

Titanox B

Titanox C

Diatom SiO2

Clay China

Alumina

Al(OH)3

MgCO3

3 %

6

7

45

54

55

76

81

Tabir tipis perlu untuk mencapai tingkat pemantulan tinggi. Sebagai contoh, Koler melaporkan 98 % pemantulan oleh tabir MgO setelah 8 mm, dengan pemantulan lebih sedikit bila lapisan dipertipis. Tabir surya tersebar merata juga mengurangi sinar UV dengan jalan memencarkan sinar. ZnO, sebuah pemantul dan penyerap yang buruk telah digunakan sebagai tabir surya militer selama PD II. (4;265)

II.8 Sunscreen

Semua bahan anorganik dan organic menyerap sinar UV. Ketika energi foton mengenai molekul suatu bahan, energi ini dapat diserap jika molekul terdiri dari dua tingkatan energi yang berbeda. Perbedaan tingkat energi antara dua struktur molekul berhubungan dengan perubahan potensial electron dan juga energi dari foton yang terserap.

Energi dari radiasi EM merupakan fungsi dari panjang gelombang. Pada panjang gelombang 2900Å, foton berenergi 99,4 kkal/gram mol dan pada panjang gelombang 3200Å, foton berenergi 90,4 kkal/gram mol. Kreps telah mendiskusikan hubungan antara struktur sunscreen dengan sifat absorpsinya. Energi dalam rentang eritema kecil memberikan energi resonansi elektronik pada beberapa senyawa aromatic, heterosiklik dan senyawa organic alifatik terkonjugasi. Jenis struktur kimia ini dimana transisi electron memerlukan energi yang berhubungan erat dengan eneregi foton dalam rentang eritemal. (4;265)

Literatur terdahulu tentang sunscreen biasanya mencantumkan daftar panjang bahan kimia yang telah digunakan sebagai penyerap sinar UV sangat sedikit dari bahan-bahan tersebut yang tetap digunakan karena mereka tidak memenuhi satu atau lebih persyaratan sunscreen yang baik. Selain struktur electron yang diperlukan untuk mempertahankan panjang gelombang maksimum penyerapan dalam rentang eritema, sunscreen yang baik juga harus cukup memotong panjang gelombang sehingga bahan ini mentransmisikan panjang gelombang di atas rentang eritemal, bahan sunscreen juga harus tahan terhadap perubahan kimia dan fotokimia, sunscreen harus diserap minimum perkutan. Sunscreen harus mudah larut dalam pembawa kosmetik tapi harus tidak larut dalam air atau penguapan. Sunscreen harus bebas racun, bahan pengiritasi atau bahan perangsang mukosa dan harus cukup plastis ketika digunakan. (4;265)

II.9 Bahan Aktif (1;326)

Persyaratan utama yang harus ada pada bahan yang digunakan untuk perlindungan terhadap sinar matahari adalah kapasitasnya untuk mengabsorbsi sinar utama pada range 2800-3200 Å. Kapasitas absorbsi dari beberapa bahan pada range UV dihitung dengan sebuah spektrofotometer UV.

Dalam memilih bahan untuk penggunaan kosmetik, persyaratan berikut harus juga dipenuhi:

Bahan harus tidak memiliki aksi irritant dan juga harus bertindak sebagai sensitizer hanya pada beberapa kasus yang jarang terjadi. Ini penting karena perlindungan terhadap sunburn dilakukan pada sejumlah besar permukaan kulit, lebih jarang pada tempat yang terkena paparan sinar dengan jumlah kecil.

Bahan harus mempertahankan efek perlindungannya terhadap kulit untuk beberapa jam. Ini seharusnya tidak dipengaruhi oleh modifikasi kimia di bawah pengaruh sinar UV, air, atau keringat yang dapat mengurangi perlindungannya atau menyebabkan peningkatan irirtasi. Selama periode ini, bahan juga harus tetap berada pada permukaan kulit, tidak boleh menguap atau tidak terserap oleh kulit.

Yang terakhir, bahan harus tidak mempunyai bau yang tidak menyenangkan pada konsentrasi yang digunakan, tidak menyebabkan terjadinya perubahan warna pada kulit atau sifat estetika yang tidak menyenangkan lainnya.

Tabir surya fisika terbuat dari, atau mengandung bahan yang dapat memantulkan cahaya, seperti zinc oksida, besi oksida, calamine, titanium oksida. (3;413)

Tabir surya kimia mengandung bahan yang dapat menyerap sinar yang berbahaya dari matahari, menyebabkan sinar tanning untuk berpenetrasi ke kulit. (3;413)

Bahan yang biasa digunakan adalah Mentol salisilat dan benzoate, mentil antranilat-etilen glikol monosalisilat, etil umbelliferon, metil umbelliferon, fenil indol, fenil kumarin, gliserol p-aminobenzoat, isobutyl p-aminobenzoat, asam p-hidroksinaftol, glikol p-aminobenzoat, benzilasetofenon, p-fenil salisilat, etil p- aminobenzoat, dan hidroklorida oleat, dan bisulfat dari kina. (3;413)

Pembawa

Knox (82) menemukan perbedaan penting dalam aksi perlindungan berbagai sunscreen dalam media berbeda. Hasil tes ini ditunjukkan pada table berikut.

Tabel Efek dari pembawa dalam efisiensinya pada sunscreen

Sunscreen

MED Perlindungan dalam :

Persentase yang digunakan

Vanishing Cream

95% alkohol

Ratio vehicle

Asam tannik

5

12

4

1/3,00

10

40

17

1/2,40

PABA

5

25

15

1/1,66

10

90

45

1/2,00

Benzophenone

5

20

15

1/1,33

10

90

70

1/1,28

Perubahan efisiensi sunscreen tidak hanya dipengaruhi oleh pembawa tetapi juga oleh konsentrasi bahan penyerap energi, meskipun tidak begitu konsinten.

Riegelman dan Penna (84) menunjukkan efek berbagai media terhadap sifat absorpsi bahan sunscreen. Mereka mennunjukkan bahwa perubahan sifat polar larutan, pH system, tetapan dielektrik, efek ikatan hydrogen, dan reaksi asosiasi molecular dapat mempengaruhi spectrum absorpsi sunscreen. Mereka menemukan indeks sunscreen dengan menggunakan isopropyl palmitat lebih baik daripada menggunakan alcohol atau air.

Lingkungan kulit termasuk lapisan residu yang ditinggalkan oleh sediaan tabir surya yang telah menguap menetukan dalam medium apa bahan pengabsorpsi UV bekerja. Sekresi sebasea dan garam dan kelembaban oleh keringat membentuk medium polar dan non polar. Efek medium terhadap efisiensi sunscreen diketahui, seperti yang ditunjukkan oleh Knox, tetapi nilai ini tidak dapat diperkirakan dengan pengukuran spektrofotometri sederhana.

Ippen dan Betzler (85) mengukur ketebalan lapisan yang dibentuk oleh beragam basis kosmetik yang dipakaikan ke tubuh. Hasilnya ada pada table berikut.

Basis kosmetik

Ketebalan Lapisan Residu (µ)

Rata-rata

Terendah

Tertinggi

Absorpsi

2,00 – 8,00

1,00

22,00

Minyal mineral

2,00 – 8,00

1,00

15,00

Gliserin, krim, fat-free

7,00 18,00

4,00

21,00

Larutan alkoholik

0,25 – 1,25

0,25

1,25

Lapisan residu sebanding dengan magnitude dan tidak tergantung pada konsentrasi sunscreen. Tapi lapisan ini diukur setelah bahan sunscreen menguap, tidak mengandung sunscreen sejumlah awal., factor pembeda adalah rasio sunscreen terhadap total bahan yang tidak menguap dari produk. Contohnya jika sejumlah 2% sunscreen digunkan pada kulit, salah satunya berupa emulsi mengandung 63% air dan yang lainnya adalah larutan dalam minyak mineral. Setelah air telah menguap dari lotio lapisan residu akan setebal seperti yang ditunjukkan oleh Ippen dan Betzler, bagaimanapun lapisan dari lotio akan mengandung 2/37 bagian sunscreen dan lapisan dari minyak mineral hanya mengandung 2/100 bahan aktif. Berarti lebih banyak sunscreen dalam bentuk lotio daripada dalam bentuk larutan berminyak.

Eirmann menyatakan bahwa sebagian besar orang lebih menyenangi lotio alkoholik dibandingkan yang bermiyak atau kasar. 2 atau 3 kali penggunaan lotion beralkohol sering digunakan pada areal kulit yang sama karena orang-orang ingin merasakan produk pada kulit. Bagaimanapun 2 kali penggunaan tersebut memberikan proteksi 2 kali dibandingkan penggunaan sekali.

Konsentrasi tinggi sunscreen dalam basis alkoholik meningkatkan efek perlidungan. Konsentrasi tinggi dari sunscreen tidak terkumpul sebagai lapisan tetapi membentuk globul mikroskopik yang memudahkan radiasi eritemal pada bagian kulit yang tidak terlindungi. Formulasi lotion alcohol dengan ester fosfat dari alcohol lemah memberikan keseimbangan hidrofilik lipofilik (HLB) yang diperlukan antara sekresi lemak kulit dan sekresi air kulit. Setelah penguapan pembawa lapisan akan terbentuk. Lebih lanjut, penggunaan lotio kini dapat mengakumulasi bahan pelindung. Ester fosfat adalah bahan pengemulsi yang baik tetapi bukan pembasah. Pentingnya pembawa dalam membentuk lapisan seragam pada kulit dikemukakan oleh Rothman. Dia pertama mendispersikan 15 % PABA dalam salep yang disebut aquaphor. Ini kemudian menghasilkan pasta homogen tetapi bahan ini sulit untuk kulit dan sediaan ini memudahkan eritema setelah radiasi.

Johnston (62) menunjukkan bahwa berenang singkat dapat menghilangkan 90– 99% bahan sunscreen pada kulit, tidak tergantung pada sifat pembawa. Sediaan uji yang digunakan adalah isopropyl miristat dalam lotio krim TEA stearat dengan dan tanpa silicon, dan dalam larutan alcohol.

Ippen dan Lisner (87) mengemukakan bahwa krim air dalam minyak memberikan lapisan kasar yang tidak mudah dilarutkan. Sunscreen larut air dihilangkan dari lapisan minyak air tetapi tidak dari lapisan air minyak. Penambahan minyak silicon tidak meningkatkan ketahanan sunscreen larut air terhadap pencucian dengan air. Minyak silicon meningkatkan retensi sunscreen larut minyak dalam basis minyak dalam air, tetapi minyak ini tidak diperlukan untuk ketahanan air dalam formulasi air dalam minyak. Aktivitas berenang menghilangkan sunscreen secara efektif bahkan lapisan yang kasar dan kedua tipe sunscreen.

Pembawa berminyak lebih efektif dalam menghasilkan lapisan seragam dan tahan lama dari sunscreen pada kulit. Dan sifat emoliennya melindungi kulit terhadap kekeringan akibat angin dan sinar matahari. Kemampuan mengontrol produk penting dalam memahami penerimaan konsumen. Pembawa tipis dan bergerak diantara jari-jari lebih disukai untuk membuat sediaan viskos yang tidak hanya dapat digunakan untuk ketahanan terhadap pencucian tetapi juga karena membentuk lapisan yang mudah larut.

Perhitungan SPF (Sun Protecting Factor)

Angka SPF diperoleh dari percobaan di dalam ruangan dengan pemajanan berkas sinar yang mirip dengan UVB Matahari pada manusia. Dalam percobaan, beberapa orang diberi tabir surya, yang lain tidak. Angka SPF diperoleh dengan membagi lamanya sinar yang menimbulkan kemerahan (gejala sun burn) pada kulit yang diolesi tabir surya dengan lamanya sinar menim-bulkan kemerahan pada kulit yang tak terlindung.

Cobalah berjemur di bawah sinar Matahari, dan hitung berapa menit kulit kita mulai jadi kemerahan. Dalam 30 menit, misalnya. Jadi, kalau pakai SPF 15, kita akan tahan di bawah sinar Matahari tanpa terbakar dalam waktu 15 x 30 = 450 menit.

Para ahli kulit lazimnya menyarankan agar tabir surya dipilih minimal SPF 15. Kurang dari itu, biasanya kulit cepat terbakar. Spesifikasi itu cukup untuk mereka yang lebih sering berada di dalam ruangan, termasuk yang berpenyejuk udara. Pekerja lapangan, atau mereka yang biasa melakukan olahraga luar ruang, seperti renang, sebaiknya menggunakan minimal SPF 30. (2)

DAFTAR PUSTAKA

1. Jelineck, Stephan,1987, “Formulation and Function of Cosmetics”, Willey – Interscience, London.

2. Tranggono, Retno Iswari dan Fatimah Latifah. 2007. “Buku Pegangan Ilmu Pengtahuan Kosmetik”. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.

3. Balsam, M.S.,1989, “Cosmetics; Science and Technology”, John Willey Sons, London.

4. Michael, (1977), “ A Formulation of Cosmetic Preparation”, Chemical Publushing Co, New York

Sabtu, 12 Juni 2010

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim

Tubuh kita merupakan laboratorium yang sangat rumit, sebab di dalamnya terjadi reaksi kimia yang beraneka ragam. Penguraian zat-zat yang terdapat dalam makanan kita, peggunaan hasil uraian untuk memperoleh energy, penggabungan kembali hasil uraian untuk membentuk persediaan makanan dalam tubuh serta banyak macam reaksi lain yang apabila dilakukan di dalam laboratorium atau in vitro membutuhkan keahlian khusus serta waktu yang lama. Reaksi atau proses kimia yang berlangsung dengan baik dalam tubuh kita ini dimungkinkan karena adanya katalis yang disebut enzim.
Berzelius pada tahun 1837 mengusulkan nama ‘katalis’ untuk zat-zat yang dapat mempercepat reaksi tetapi zat itu sendiri tidak ikut bereaksi. Proses kimia yang terjadi dengan pertolongan enzim telah dikenal sejak zaman dahulu. Dahulu proses fermentasi dianggap hanya terjadi dengan adanya sel yang mengandung enzim. Anggapan tersebut berubah setelah Buchner membuktikan bahwa cairan yang berasal dari ragi tanpa adanya sel hidup dapat menyebabkan terjadinya fermentasi gula menjadi alkohol dan karbondioksida.
Pengetahuan tentang enzim atau enzimologi sejak 1926 berkembang dengan cepat. Dari hasil penelitian para ahli biokimia ternyata bahwa banyak enzim mempunyai gugus bukan protein, jadi termasuk protein majemuk. Enzim semacam ini (holoenzim) terdiri atas protein (apoenzim) dan suatu gugus bukan protein. Sebagai contoh, enzim katalase terdiri atas protein dan ferriprotorfirin. Ada juga enzim yang terdiri atas protein dan logam.
Enzim memiliki tenaga katalitik yang luar biasa, yang biasanya jauh lebih besar dari katalisator sintetik. Spesifisistas enzim amat tinggi terhadap substratnya, enzim mempercepat reaksi kimiawi spesifik tanpa pembentukan produk samping, dan molekul ini berfungsi di dalam larutan encer pada keadaan suhu dan pH normal. Hanya sedikit katalisator non-biologi yang dilengkapi dengan sifat-sifat ini.
Enzim memberikan dampak kepada banyak bidang pengetahuan biomedis. Pada saat sel mengalami cedera (misalnya akibat suplai darah yang terganggu atau akibat inflamasi), enzim-enzim tertentu akan merambas ke dalam plasma. Pengukuran aktivitas enzim tersebut dalam plasma darah telah menjadi bagian integral tindakan diagnosis untuk penyakit-penyakit yang penting
Berbagai faktor penting misalnya konsentrasi enzim serta substrat, suhu, pH, dan inhibitor yang mempengaruhi pengukuran kadar aktivitas enzim. Karena aktivitas enzim meningkat bersamaan dengan peningkatan suhu, laju berbagai proses metabolisme, akan mengalami peningkatan yang bermakna.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim
- Konsentrasi enzim
Seperti pada katalis lain, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.
Konsentrasi Substrat
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi enzim yang tetap, maka pertambahan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepatan reaksi.
Untuk dapat terjadi kompleks enzim substrat, diperlukan adanya kontak antara enzim dengan substrat. Kontak ini terjadi pada suatu tempat atau bagian enzim yang disebut bagian aktif. Pada konsentrasi substrat rendah, bagian aktif enzim ini hanya menampung sedikit substrat. Bila konsentrasi substrat diperbesar, makin banyak substrat yang dapat berhubungan dengan enzim pada bagian aktif tersebut. Dengan demikian, konsentrasi kompleks enzim substrat makin besar dan hal ini menyebabkan makin besarnya kecepatan reaksi. Namun dalam keadaan ini, bertambah besarnya konsentrasi susbstrat tidak menyebabkan bertambah besarnya konsentrasi kompleks enzim substrat, sehingga jumlah hasil reaksinya pun tidak bertambah besar.
- Suhu
Oleh karena reaksi kimia dapat dipengaruhi oleh suhu, maka reaksi yang menggunakan katalis enzim dapat dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan pada suhu yang lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. Disamping itu, karena enzim itu adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Apabila terjadi proses denaturasi, maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan menurun. Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi dapat menaikkan kecepatan reaksi.
Peningkatan suhu meningkatkan reaksi enzim yang terkatalisis dan yang tidak terkatalisis dengan cara meningkatkan energi kinetic dan frekuensi tubrukan dari besarnya molekul. Bagaimanapun energy panas dapat meningkatkan energy kinetic dari enzim ke titik yang mana kelebihan energy pelindung untuk dapat mengganggu interaksi non-kovalen yang berfungsi mengatur struktur tiga dimensi dari enzim. Cincin polipeptida kemudian mulai terbuka atau terdenaturasi, yang disertai dengan pengurangan kecepatan dari aktivitas katalisis. Pada temperatur tertentu sebuah enzim berada dalam keadaan stabil, konformasi, kompetensor katalisis tergantung suhu normal sel, yang mana enzim itu berada. Enzim pada umumnya stabil pada temperatur 45-55oC. Sebaliknya, enzim pada mikroorganisme termofilik yang berada pada sumber mata air panas gunung berapi, atau pada lubang hidrotermal bawah laut dapat stabil pada suhu kurang lebih 100oC.
- Pengaruh pH
Seperti protein pada umumnya, struktur ion enzim tergantung pada pH lingkungannya. Enzim dapat berbentuk ion positif, ion negatif, atau ion bermuatan ganda. Dengan demikian perubahan pH lingkungan akan berpengaruh terhadap efektivitas bagian aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim substrat. Disamping pengaruh terhadap struktur ion pada enzim, pH rendah, atau pH tinggi dapat pula menyebabkan terjadinya proses denaturasi dan ini akan mengakibatkan menurunnya aktifitas enzim. Terdapat suatu nilai pH tertentu atau daerah pH yang dapat menyebabkan kecepatan reaksi paling tinggi. pH tersebut dinamakan pH optimum.
- Pengaruh Inhibator
1. Hambatan Reversibel
Molekul atau ion yang dapat menghambat reaksi dinamakan inhibitor. Hambatan terhadap aktivitas enzim dalam suatu reaksi kimia mempunyai arti yang penting, karena hambatan tersebut merupakan mekanisme pengaturan reaksi-reaksi yang terjadi pada tubuh. Disamping itu hambatan dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang mekanisme kerja enzim. Hambatan reversible dapat berupa hambatan bersaing atau hambatan tidak bersaing.
a. Hambatan bersaing disebabkan karena adanya molekul yang mirip dengan substrat, yang dapat pula membentuk kompleks, yaitu kompleks enzim inhibitor. Pembentukan kompleks enzim inhibitor ini sama dengan pembentukan kompleks enzim substrat, yaitu melalui penggabungan inhibitor dengan enzim pada bagian aktif enzim. Dengan demikian terjadi persaingan antara inhibitor dengan substrat terhadap bagian aktif enzim. Inhibitor yang menyebabkan hambatan bersaing disebut inhibitor bersaing. Inhibitor bersaing menghalangi terbentuknya kompleks enzim substrat dengan cara membentuk kompleks enzim inhibitor yang tidak dapat membentuk hasil reaksi P. Dengan demikian adanya inhibitor bersaing dapat mengurangi peluang bagi terbentuknya kompleks enzim substrat dan hal ini menyebabkan berkurangnya kecepatan reaksi.
b. Hambatan tidak bersaing tidak dipengaruhi oleh besarnya konsentrasi substrat dan inhibitor yang melakukannya disebut inhibitor tidak bersaing. Dalam hal ini inhibitor dapat bergabung dengan enzim pada suatu bagian enzim diluar bagian aktif. Penggabungan antara inhibitor dengan enzim ini terjadi pada enzim bebas, atau pada enzim yang telah mengikat substrat yaitu kompleks enzim substrat.
2. Hambatan Irreversibel
Hambatan irreversible ini dapat terjadi karena inhibitor bereaksi tidak reversible dengan bagian tertentu pada enzim, sehingga mengakibatkan berubahnya bentuk enzim. Dengan demikian mengurangi aktivitas katalitik enzim tersebut.
- Konsentrasi Ion Hidrogen
Kecepatan dari hampir semua reaksi enzim yang terkatalisis menunjukkan ketergantungan yang signifikan dari konsentrasi ion hydrogen. Kebanyakan enzim intraseluler menunjukkan aktivitas optimal pada nilai pH 5 dan 9. Hubungan dari aktivitas konsentrasi ion H menunjukkan keseimbangan antara denaturasi enzim pada pH yang tinggi dan rendah serta efek pada enzim, substrat, atau keduanya.
- Ion Logam
Ion-ion logam, yang menjalankan peranan katalitik dan structural pada lebih seperempat dari semua enzim yang dikenal dapat pula mengisi peranan pengatur, khususnya bagi reaksi dimana ATP merupakan substrat. Kalau kompleks ATP ion logam tersebut merupakan substrat, aktifitas maksimal secara khas akan terlihat pada rasio molar ATP terhadap logam di sekitar satu. Kelebihan logam atau kelebihan ATP merupakan hambatan karena senyawa-senyawa nukleosida di– dan trifosfat membentuk kompleks yang stabil dengan kation-kation dwi-valensi, konsentrasi intraseluler nukleotida dapat mempengaruhi konsentrasi intraseluler ion-ion logam bebas dan dengan demikian mempengaruhi pula aktivitas enzim-enzim tertentu.
- Efektor Alosterik
Aktivitas katalitik enzim-enzim pengatur tertentu diatur oleh efektor alosterik berbobot molekul rendah yang umumnya tanpa atau mempunyai sedikit kemiripan structural dengan substrat ataupun koenzim bagi enzim yang diatur itu. Inhibisi umpan balik merupakan istilah yang mengacu pada penghambatan aktivitas suatu enzim dalam lintasan biosintesis oleh produk akhir dari lintasan terakhir.

PUSTAKA

1. Lehninger, Albert. 1975. Biochemistry, second edition. 444 Park Avenue South: New York.
2. Poedjiadi, Anna dan F.M. Titin Sufriyanti. 2006. Dasar-Dasar Biokimia. Bandung: UI Press.
3. Murray, Robert K., dkk. 1990. Biokimia Harper, edisi ke-22. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.