Minggu, 12 April 2009

Tablet Bukal/Sublingual

TABLET BUKAL

Definisi
• Tablet Bukal adalah tablet kempa biasa yang berbentuk oval yang ditempatkan di antara gusi dan pipi. Biasanya keras dan berisi hormon. Bekerja sistemik, tererosi atau terdisolusi di tempat tersebut dalam waktu yang lama (secara perlahan). (http://id.wordpress.com)
• Tablet bukal bentuknya kecil, pipih yang ditempatkan di kantong bukal di antara pipi dan gusi. Setelah obat dilepaskan dari tablet, bahan aktif diabsorpsi tanpa melewati saluran gastrointestinal. Ini rute yang menguntungkan untuk obat yang bisa dihancurkan oleh saluran gastrointestinal. Tetapi, hanya sedikit obat yang dapat diabsorpsi dari oral sulci. Pemberiannya hanya terbatas pada gliseril trinitrat dan hormone-hormon steroid. (Parrot, E.L. Solid Dosage Form. In : Sprowl, J.B., editor. Prescription Pharmacy.2nd ed. J.B Lippincott Company.Philadelpia.1980.hal.135).
• Tablet ini bentuknya kecil, pipih, dan ovalyang dimaksudkan untuk pemberian pada daerah bukal yang melarut atau tererosi perlahan, oleh karena itu, diformulasi dan dikopresi dengan tekanan yang cukup untuk menghasilkan tablet yang keras. Tablet Progesteron diberikan melalui jalur ini. (Rudnic, Edward and Schwartz, J.B. Oral Solid Dosage Form. In : Gennaro, A.R. Remington’s Pharmaceutical Science. 18th ed. Mack Publishing Company. Easton,Pennsylvania.1990. hal. 1634).







SEDIAAN BUKAL
Tablet bukal mengandung sejumlah bahan aktif yang dikombinasikan dengan bahan tambahan, dimana bahan tambahan yang penting terdiri atas sorbitol dan lubrikan. Tablet ini memberikan “drug delivery” yang sangat cepat, dimana level bahan aktif dalam darah dapat dibandingkan dengan pemberian secara parenteral.
Pemberian melalui bukal sebagian berguna untuk bahan aktif yang menunjukkan bioavailabilitas yang rendah selama pemberian non parenteral. Availabilitas yang rendah dapat menyebabkan kelarutan yang rendah, degradasi oleh enzim atau dirusak oleh asam selama melewati saluran pencernaan, atau first-pass destruction oleh hati setelah absorpsi dari saluran pencernaan. Contoh obatnya yaitu : steroid, seperti estrogen,misalnya estradiol, dan turunannya seperti esternya, misalnya valerat, cypionat dan propionat, progestins, misalnya, progesteron dan senyawa yang berhubungan, androgen dan steroid anabolik; propranolol; hormon-hormon tiroid; sensitif-pH dan protein-protein kecil seperti insulin and ACTH; fisostigmine; skopolamin; verapamil; dan gallopamil. Juga memungkinkan untuk memberikan senyawa-senyawa yang mempunyai bioavailabilitas yang baik secara bukal, tetapi pada umumnya obat-obat tersebut akan diberikan secara ora untuk kenyamaan.
Pemberian estradiol secara bukal memberikan puncak level darah yang diikuti penurunan konsentrasinya. Ini adalah jalur alami yang dialami oleh estradiol dalam tubuh, dan oleh karena itu peningkatan melalui pemberian secara transdermal, secara relatif akan memberikan level darah yang konstan. Pemaberian estrogen secara oral seperti estradiol tidak praktis karena akan mengalami penghancuran di hati tidak lama setelah diabsorpsi dari saluran pencernaan.
Perlu bagi formulasi bukal untuk kontak dengan mukosa oral untuk waktu yang cukup agar obat bisa diabsorpsi. Jika formulasinya “falls apart” terlalu cepat, bahan aktif akan tertelan, sehingga obat yang sampai tidak cukup, tetapi jika formulasinya tidak “falls apart” dengan cukup cepat maka pasien akan kesulitan, karena pasien tidak dapat makan atau minum selama menggunakan sediaan bukal. Formulasi bukal sebaiknya mempunyai ukuran yang kecil untuk menghindari ketidaknyamanan pasien, dan diinginkan formulasi sebisa mungkin larut dalam saliva sehingga ketidaknyamanan dari partikel berpasir yang tidak larut di mulut dapat dihindari.
Komposisi tablet bukal untuk pemberian obat mengandung bahan-bahan penting: kira-kira 1 sampai 20% dari berat bahan terlarut, polimer adesif yang dapat diterima secara farmasetikal; bahan tambahan tablet yang dapat dikompresi secara langsung; dan sejumlah bahan obat yang berguna secara terapi. Komposisi tablet bukal misalnya bisa mengandung kira-kira sampai 10 % (kira-kira 1-10%) penghancur yang dapat diterima secara farmasetika.
Komposisi tablet bukal untuk pemberian estrogen, mengandung kira-kira 2-10% bahan adesif polimer, seperti carbomer 934 P; dan penghancur tablet sampai kira-kira 6%, seperti crospovidon; gula yang dapat dikompresi dan kira-kira 50 mikrogram sampai 2 g estradiol. Formulasi bukal dapat mengandung bahan-bahan incidental, seperti lubrikan, bahan pewarna dan bahan pengaroma.
Bahan adesif polimer yang dapat diterima secara farmasetikal digunakan untuk memberikan sifat basah untuk formulasi bukal sehingga sediaannya dapat tetap pada tempatnya selama pemberian. Sejumlah bahan adesif dalam formulasi kira-kira 1-20%, tetapi lebih dipilih 2-10%. Penggunaannya yang kurang dari 1% bisa menghasilkan sifat adesif yang tidak cukup atau formulasi yang “falling apart” yang terlalu cepat, sebaliknya jika berlebihan menyebabkan formulasi tersebut tinggal lebih lama daripada yang diinginkan. Bahan adesif akan lengket ketika lembab tetapi tidak ketika kering, untuk kenyamanan pada saat penanganan. Sejumlah bahan adesif dapat digunakan secara umum untuk meningkatkan kelarutan dari bahan aktif.
Salah satu kelompok bahan adesif polimer yang ber-BM tinggi dari asam akrilat dikenal dengan karbomer. Berat molekulnya 450,000 sampai 4,000,000 berguna, terutama dengan BM 3,000,000 (misalnya carbomer 934 P.). Bahan adesif ini digunakan dalam jumlah kecil untuk memberikan karakteristik adesif yang diinginkan pada formulasi, yang berguna karena jumlah bahan adesif yang besar dapat menghalangi disolusi dari bahan aktif. Polimer hidrofilik lain yang bisa digunakan adalah polimer hidrofilik yang mengandung sebagian (87-89%) polivinilalkohol terhidrolasi ( BM 10,000 sampai 125,000, lebih dipilih 11,000 to 31,000), polietilen oxida (mBM kira-kira 100,000 sampai 5,000,000, lebih dipilih BM 400,000) dan poliakrilat. Hidroksipropil metilselulosa yang mempunyai BM 13,000 sampai 140,000 dan hidroksipropil selulosa yang mempunyai BM 60,000 sampai 1,000,000 juga merupakan bahan adesif yang berguna. Istilah “soluble” digunakan sebagai indikasi bahwa bahannya larut dalam air atau saliva.
Selama pemberian sediaan, bahan adesif di tempat itu berbentuk seperti gel yang perlahan-lahan memisah. Penggunaan sejumlah disintegran yang dapat diterima secara farmasetikal yang tertelan selama pemberian, menyebabkan lebih banyak pemaparan formulasi pada saliva, dapat membantu pemisahan dan menyebabkan formulasi memisah secara perlahan-lahan. Jumlah disintegran dalam fprmulasi sampai 10%, misalnya 3-6%. Meskipun demikian, jmlah disintegran yang berlebihan bisa memperlambat penghancuran, seperti pada formulasi dari gel yang tidak larut, dan membantudisolusi dari formulasi. Beberapa formulasi dari tipe ini bisa menunjukkan disintegrasi yang lebih cepat jika disintegran yang digunakan kurang dari 3%, misalnya 2,5% atau bahkan 1% atau kurang, terutama jika disintegran tidak terbasahkan oleh air atau larut sebagian dalam air; seperti disintegran dengan menghambat pemasukan air ke dalam komposisi tablet yang dapat memperlambat penghancuran dan disolusinya. Pemilihan jumlah disintegran yang tepat dilakukan dengan trial dan error. BEberapa formulasi tidak mengandung disintegran sama sekali atau mengandung persentase disintegran yang sangat kecil, misalnya 0.05% atau 0.1% sampai 0.9%.
Salah satu disintegran adalah bahan crospovidon yang merupakan produk silang dari polivinil-5- pirolidon. Bahan disintegran lain meliputi Ac-di-sol, asam alginate dan pati Na-karboksimetil.
Formulasinya juga meliputi bahan tambahan tablet yang larut, yang dapat dikompresi secara langsung seperti gula. Salah satu bahan tambahan tablet adalah co-kristalisasi dari sukrosa 97% dan dekstrin termodifikasi 3%. Selain itu, juga biasa digunakan laktosa.
Bahan lain yang digunakan meliputi lubrikan, bahan pewarna dan bahan pengaroma. Lubrikan mungkin tidak larut dalam air, misalnya magnesium stearat atau oleat, jumlahnya sampai 3%, lebih dipakai 0,3 sampai 1,5%. Meskipun demikian, lubrikan yang dipilih adalah yang larut dalam air, misalnya Na lauril sulfat, jumlahnya sampai 3%, dipilih 0,3-1,5%. Campuran lubrikan yang larut dan tidak larut dalam air dapat digunakan. Lubrikan yang larut bisa memperpendek waktu disintegrasi dan disolusi, terutama untuk bahan obat yang larut dalam air, sedangkan lubrikan yang tidak larut bisa memperpanjang.
Jumlah bahan aktif akan bervariasi tergantung pada dosis yang diinginkan untuk pengobatan. Estradiol, ketika digunakan sebagai bahan aktif, jumlahnya kira-kira 50 mikrogram sampai 2 mg.
Formulasi dapat disiapkan dengan pencampuran sederhana dan mengkompresi jumlah campuran yang dinginkan ke dalam bentuk tablet. Sediaan akhir yang diinginkan mempunyai diameter kira-kira 0.635 cm (kira-kira ¼ inci) dan ketebalan kira-kira 0.127 cm (kira-kira 0.05 inci), dan penghancuran selama pemberian kira-kira 2-20 menit, lebih dipilih 4-12 menit.
CONTOH 1
Bahan-bahan berikut dimasukkan dalam blender-V dan diaduk sampai 10 menit.
Jumlah bahan dalam %:
0.2 Estradiol, USP 2.0 g 98.8 Sorbitol N.F. 988.0 g 1.0 Sodium Dodecyl 10.0 g Sulfate 100.00

Tablet ditimbang kira-kira 0.05 gram/tablet dibentuk menggunakan tekanan kompresi kira-kira 100 PSI. Hasil batchnya kira-kira 20,000 tablet yang penghancurannya pada saat pemberian kira-kira 1 menit. Tablet memiliki diameter kira-kira ¼ inci.
CONTOH2

Menggunakan prosedur yang digambarkan pada contoh 1,tablet bukal disiapkan menggunakan bahan tambahan yang digambarkan Tabel 1. Setiap pengoperasian mesin tablet menggunakan tekanan kompresi 500, 1000 atau 2000 psi. Hasil disintegrasi in vitro mengindikasikan bahwa setiap formulasi menghasilkan tablet bukal yang melarut kira-kira 1 menit. Jumlah sorbitol harus dikurangi untuk membolehkan penambahan bahan aktif. Sebagai contoh, jumlah estradiol 0,2% sehingga jumlah sorbitol akan dikurangi 0,2%. Jika digunakan bahan aktif yang berbeda, misalnya skopolamin, maka sorbitol dikurangi.

TABEL 1 ______________________________________
Sorbitol, Sodium Dodecyl Stearate N.F. (% w/w), Magnesium Sulfate (% w/w) ______________________________________ 98.0 0 2.0 ;97.0 0 3.0; 98.8 0.2 1.0; 97.8 0.2 2.0; 96.8 0.2 3.0; 98.5 0.5 1.0; 97.5 0.5 2.0; 96.5 0.5 3.0 ______________________________________

CONTOH3

Sorbitol spray-dried sebagai pengganti sorbitol N.F. dalam formulasi mengandung bahan tambahan yang digambarkan di bawah ini di Tabel 2 dan menggunakan prosedur pada contoh 1 untuk menghasilkan tablet bukal yang melarut kira-kira dalam 1 menit.
TABEL2 __________________________________________________________________________ Spray Dried Sorbitol (% w/w) Magnesium Stearate (% w/w) Sodium Dodecyl Sulfate (% __________________________________________________________________________ w/w) 96.8 0.2 3.0; 97.5 0.5 2.0 __________________________________________________________________________
(www.wipo.int)

2 komentar: